Malaysia Online Casino_Formal betting platform_Football Handicap app_The foreign baccarat master's play style_Gambling Handicap

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Kemampuan stabil baccarat

Nah, poin ini bisa jadi hal yang sering banget nggak kita sadari kita lakukan di depan anak atau di depan umum.

Apapun kondisinya, suami kita adalah kepala keluarga yang wibawanya wajib kita jaga, bahkan saat tidak di depan orang lain. Apapun alasannya, bullying adalah tindakan yang nggak pantas kita lakukan. Belajar sabar, respek, ikhlas dan mengkomunikasikan segala sesuatu dengan baik pasti akan membuat rumah tanggamu lebih bahagia dan harmonis. Setuju?

Kata-kata seperti “Nggak usah atur-atur aku deh, emang kamu yang bayarin ongkos jajan aku!” atau “Ayah kerjanya lebih rajin dong, biar kita nggak begini terus. Kapan punya rumah (atau mobil)nya kalau gini terus?” lebih baik dihindari  agar keharmonisan keluarga tetap terjaga.

Eh? Suami di-bully?

Sadar nggak tindakan kita yang suka mengintimidasi suami juga termasuk tindakan bullying, lho. Sikap kita yang menekan suami untuk mengabulkan keinginan atau melakukan sesuatu dengan cara kita bisa membuat suami stres, lho.

Kata-kata seperti “Aduh, apa-apaan sih ini?! Kok nggak becus sih kerjanya!” mendingan disimpan dalam hati aja, sekesal apapun kita.

Kata-kata seperti, “Duh, Ayah masa kayak gitu aja nggak bisa sih? Payah ah!” atau “Yaelah, Ayah! Masa gitu aja nggak ngerti sih. Makanya otaknya dipake dong!”

Iya, suassycmsun tanpa kita sadari bisa banget lho jadi korban bullying! Yang sering terjadi, tindakan bully yang dilakukan adalah mental bullying atau mem-bully secara emosional, jadi bully nggak melulu soal kekerasan fisik.

Nah, ada yang merasa melakukan tindakan bullying di atas? Lebih baik mulai sekarang dihentikan ya, agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Meskipun apa yang kita lakukan nggak sampai seekstrim melakukan tindak KDRT, tapi kekerasan verbal apalagi sampai melontarkan makian sama sekali nggak pantas kita lakukan. Ingat lho, suami bisa jadi diam aja saat kita ledek atau kita marahin sekarang, tapi jangan sampai kemarahannya terakumulasi dan bikin suami jadi stres terus nggak betah di rumah. Kalau suami sudah nggak tahan dan balik marah, konsekuensinya hati kita bisa jauh lebih terluka, lho. Apalagi kalau suami sampai cari tempat curhat lain di luar sana, wah bisa berabe! Efek mental bullying juga bisa berimbas pada kinerja suami di kantor. Nah, nggak mau ‘kan kerjaan suami malah jadi kacau cuma gara-gara kita nggak sadar sudah mem-bully suami?

Suami kita juga punya harga diri lho, jangan sampai kita malah menciutkan harga diri suami sendiri di tengah orang banyak.

Kata-kata seperti “Ayah gimana sih, pokoknya aku nggak mau tahu, bulan ini kita beli mobil baru!” bisa membuat suami tertekan dan stres.

Jaman sekarang sudah biasa kalau istri juga ikut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Bahkan banyak yang posisi kerjanya lebih tinggi dari suami. Tapi ingat, suami tetaplah posisinya sebagai kepala rumah tangga yang wajib kita hormati dan hargai, apapun kondisinya. Jangan sampai karena kita merasa berpenghasilan lebih dari suami dan kita kesal dengan kekurangan finasisal suami, kita jadi suka mengungkit-ungkit hal tersebut.

Kata-kata seperti “Duh, Ayah, jerawatmu kok makin banyak sih itu? Makanya cuci muka yang bersih!” atau “Ihh, perut Ayah kok buncit banget siiih. Genduuut!”

Tanpa sadar, kita bisa jadi bicara dengan nada atau pilihan kosakata yang kurang mengenakkan pada suami saat kita kesal atau merasa lelah. Hati-hati, karena ini juga termasuk tindakan bullying lho. Bayangin aja kalau kita ada di posisi suami kita. Kira-kira kita bakal ngerasa malu atau tersinggung nggak?

Kadang saat kita panik atau marah, sebuah bentakan bisa kita lontarkan pada suami dan kita anggap lumrah. Padahal nih, sebuah bentakan bisa melukai perasaan suami kita lho apalagi kalau dilakukan di depan anak atau orang banyak.

Kalau ada sesuatu yang kita inginkan, alangkah baiknya kalau kita komunikasikan dengan baik dan sama-sama mencari jalan keluarnya.

Biasanya bully (atau perundungan) hanya dikaitkan dengan tindakan penindasan anak-anak dan remaja di sekolah atau karyawan di tempat kerja. Tapi tau nggak sih kalau kita pun bisa jadi korban bahkan pelaku bullying di rumah kita sendiri? Nah, kalau biasanya pihak perempuan yang jadi sorotan kasus bullying, kali ini Hipwee mau jabarin 6 tanda kalau para perempuan (baca: istri) pun bisa jadi merupakan pelaku bullying terhadap suami sendiri di rumah.

Kata-kata semacam itu mungkin kita rasa biasa aja ya, tapi kalau diomongin terus-terusan, apalagi di depan orang banyak akan menunjukkan kurangnya respek kita terhadap suami dan memudarkan bahkan menjatuhkan wibawa suami kita sendiri. Hayo, ada nggak yang suka begini sama suaminya?

Berikut 6 tanda bahwa kita sudah mem-bully suami sendiri di rumah, cek satu-satu ya, barangkali kitalah yang jadi pelakunya

Bisa jadi kita anggap hal ini biasa atau hanya sekedar bercanda. Tapi hati-hati lho, buibu. Kata-kata ledekan semacam itu bisa melukai perasaan suami kita, terlebih kalau dilakukan terang-terangan di depan orang banyak. Bayangin kalo kita ada di posisi si suami, marah nggak? Jadi lebih baik mulai sekarang stop meledek suami berlebihan di depan orang lain ya.