Indonesia Lottery Loopholes_Baccarat Platform Collection_Gambling to make money_Best online casinos in Indonesia 2021_BetVictor

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Kemampuan stabil baccarat

TBaccaBaccaBaccarat bettinBaccarat betting skillsg skillsrat betting skiBaccarat betting skillsllsrat betting skillsertawa adalah sebuah reaksi spontan. Mana mungkin tertawa bisa lepas dengan aturan dan skenario Jatuhnya jadi akting dong. Lucu juga nggak perlu dijelaskan, bukankah kata sifat ini didefinikan secara alamiah oleh otak manusia? Sayangnya, saya melihat beberapa komedi yang perlu dijelaskan dari sebuah film yang sekuat tenaga dibuat lucu. Hasilnya, memang banyak yang tertawa. Namun lima menit kemudian mereka lupa tertawa karena apa.

Penggemar stand up comedy di Indonesia pastinya kegirangan menonton film ini. Selain karena banyak banget idola dan teman mereka yang nongol, aksi guyonan mereka meski hanya satu dua kalimat memang pecah. Lagi-lagi saya sempat suuzan karena cameo dalam film ini digunakan sebagai ‘elemen penyelamat’ dari premis cerita Partikelir yang rancu dan ke mana-mana.

Sebuah genre buddy cop alias petualangan dua sahabat dalam membasmi kejahatan memang sangat karib buat penyuka film Hollywood. Sebut saja 21 Jump Street, The Nice Guys, hingga The Interview yang sempat menuai kontroversi. Namun ketika genre ini mulai dicicipi oleh sutradara lokal, masyarakat siap nggak sih menerjemahkan pola pikir sutradara yang cenderung imajinatif begini? Meski film Partikelir ini jauh di bawah ekspektasi saya dengan karya Pandji Pragiwaksono, paling nggak ada beberapa hal yang perlu diintrospeksi. Katanya, di negeri ini kalau hanya kasih kritik tanpa saran dibilang nyinyir sih.

Mengusung tema Hollywood ke tayangan Indonesia memang sebuah keberanian. Namanya juga debut, butuh elemen observasi untuk memulai. Sayangnya Pandji Pragiwaksono yang dikenal dengan guyonan cerdas kritisnya justru tampak pengen mengeluarkan semua isi kepalanya dan menjejalkannya dalam satu film. Tentu, langkahnya ini malah nggak cerdas dan nasib filmnya berujung kritis.

Jujur saja, saat menonton di bioskop, saya mendengar tertawa lepas penonton yang terbahak dan terpingkal. Tapi saya heran apa yang mereka tertawai. Saya sempat curiga apakah selera humor saya memang kelewat receh atau saya sedang PMS kala itu. Namun ternyata saya hanyalah mengharapkan guyonan sindir-kanan-kiri yang cenderung sarkas, sementara yang saya lahap adalah komedi ringan sederhana. Ya, jelas nggak kenyang.

Sebagai sebuah komedi yang dikemas agar terlihat cerdas, Partikelir justru tampak nggak matang. Entah karena proses produksi yang terburu-buru atau gelora sutradara yang terlalu memburu. Pemilihan lagu-lagu khas melayu saat pertarungan yang dimaksudkan agar lucu justru kurang mengena dan terasa seperti mengulur durasi. Mungkin akhirnya nggak hanya Pandji yang harus introspeksi, tapi semua kru yang juga mendalangi. Nah, paling nggak kita bisa bersyukur dengan gairah film komedi Indonesia yang semakin berwarna. Dengan begitu penonton yang haus tayangan menghibur punya banyak pilihan dan bisa move on dari komedi lawas layaknya Warkop DKI dan Benyamin Sueb yang sudah waktunya dijadikan legenda, lalu beralih dengan menciptakan legenda baru.

Kalau dari awal film Comic 8 karya anak bangsa memang sudah dibumbui hal surealis layaknya bom, baku tembak, slow motion, hipnotis, dan hal-hal fantasi lainnya, saya justru bingung dengan Partikelir. Kalau pun film ini dimaksudkan realis, kenapa sih ada adegan baku tembak yang terasa begitu cringe dan penyelesaiannya hanya sekadar berita di televisi? Padahal Cok Simbara yang sudah membara menyalahkan sistem pemerintahan karena ia harus jual narkoba itu, udah ngena banget—demi menyindir para kaum yang hanya bisa mengeluhkan pihak lain ketimbang introspeksi.

Elemen yang ingin ‘dijual’ dari banyak film-film buddy cop lain adalah hubungan tarik ulur pertemanan yang menggemaskan. Kalau anak gaul sih bilangnya love hate relationship, benci tapi rindu, sebel tapi sayang, sayang tapi nggak jadian-jadian. Tentunya koneksi batin Deva dan Pandji harusnya dibangun sedemikian rupa sehingga bikin penonton menginginkan mereka memecahkan kasus bersama. Sayang, secara pribadi saya sama sekali nggak menangkap kalau pertemanan mereka itu asyik. Justru lebih kepada pangling dengan postur Deva Mahendra yang jadi tinggi besar. Seharusnya duel melawan Agung Hercules sudah cocok banget.